10 January 2014

Sedikit Tentang New Unconscious

Kira-kira sekitar tahun lalu di suatu pagi yang sibuk, saya bangun dari tidur yang hanya berdurasi tiga jam karena sampai rumah agak malam mengerjakan ini itu, lalu begadang baca ini itu dan tulis ini itu (saya sangat menikmati tidur, jadi tiga jam terasa sangat sedikit). Pagi itu saya mengendarai mobil ke kampus dengan mengantuk (saya tidak akan cerita tentang kecelakaan). Bensinnya tinggal sedikit jadi saya mampir ke SPBU terdekat. Saya minta isi bensin ke mas-mas petugas SPBU lalu duduk di mobil sambil membuka-buka dompet. Beberapa saat kemudian, mas-mas SPBU pergi entah kemana dan berganti jadi mbak-mbak dan bilang pada saya bahwa bensin sudah diisi dan dia bertanya pada saya apa saya sudah membayar? Saya langsung menjawab bahwa saya sudah membayar ke mas-mas tadi, dan saya juga menambahkan terima kasih. Lalu saya menyalakan mesin dan pergi. Di perjalanan, begitu bertemu lampu merah enam puluh detik, saya melirik tas dan kebingungan melihat dompet saya masih terbuka, ternyata uangnya pun utuh: saya tidak membayar bensin barusan. Seketika saya langsung mau balik lagi kesana saat itu juga, tapi karena pertimbangan telat dan ini itu, saya putuskan nanti saja pulangnya saya kesana untuk bayar (dan tenang, pulangnya saya langsung bayar kesana, dengan penjelasan apa adanya bahwa saya lupa belum bayar dan dihiasi tawa lega dari mas-mas dan mbak-mbak SPBU).

Itu contoh kejadian yang langsung terbayang saat saya baca bab awal dalam buku Subliminal yang ditulis Leonard Mlodinow (Mlodinow juga menulis The Grand Design bareng Stephen Hawking, kalau kalian sudah baca juga). Waktu di toko buku, saya menemukan dua versi dari buku ini, yang satu warna merah, terbitan Penguin, yang satunya warna hijau, terbitan Vintage. Isinya sama. Saya beli yang merah karena lebih ukurannya lebih ringkas dan lebih murah sedikit.
 

Mlodinow membahas tentang New Unconscious. Tentunya di awal-awal bertebaran nama Freud karena Freudlah orang rese nan berjasa yang mencetuskan konsep tentang Unconscious.

Mari singgung sedikit mengenai Freud dan Unconscious sebelum ke New Unconsciousnya Mlodinow. Freud melihat bahwa manusia terdiri dari jiwa dan tubuh (dualisme warisan Plato), tapi lebih dari itu, Freud juga memiliki gagasan bahwa jiwa sendiri terdiri dari beberapa bagian; id, ego, dan superego, dan masing-masingnya berkembang dalam tahap berbeda dalam kehidupan manusia. Secara singkat, id merupakan bagian impulsif yang dimiliki oleh manusia yang baru lahir (bayi) dimana semua kebutuhannya harus segera dipenuhi. Id menginginkan pemenuhan hasrat dan keinginan dengan segera, dan belum dipengaruhi oleh realitas dari dunia luar. Lalu, ego merupakan bagian dari id yang telah berkembang seiring dengan pengaruh dari dunia luar. Seperti id, ego memiliki banyak hasrat dan keinginan, namun karena sudah mendapat pengaruh dari dunia luar, ego memiliki pertimbangan dan strategi untuk mendapatkan pemenuhan hasrat dan keinginan (Freud mengibaratkan id sebagai kuda, sedangkan ego sebagai penunggangnya). Ego tidak memiliki konsep benar dan salah, bagi ego sesuatu itu baik atau buruk bergantung apabila sesuatu itu dapat memenuhi keinginan tanpa merugikan dirinya sendiri atau id. Sedangkan superego merupakan sesuatu di atas kuda dan penunggang kuda, yang memiliki nilai-nilai moral dari masyarakat yang didapatkan dari orangtua, sekolah, atau literatur yang seseorang baca. Superego mengandung conscience dan ideal self dan kedua hal tersebut dapat membuat seseorang berperilaku lebih teratur atau pantas, memperlakukan orang lain dengan lebih baik, atau merasa bersalah ketika melakukan hal-hal yang menyimpang.

Inti dari pemikiran Freud adalah manusia memulai hidupnya dengan pleasure principle, lalu seiring bertambah dewasa, manusia harus paham bahwa pleasure principle harus tunduk pada reality principle. Dalam proses tersebut, banyak sekali hasrat yang direpresi. Hasrat-hasrat tersebut masuk ke dalam Unconscious – Ketidaksadaran. Setiap manusia tentu memiliki tantangan dan rintangan tersendiri dalam perkembangan kejiwaan, ada yang kuat dan tidak kuat, mereka yang tidak kuat sering kita sebut sebagai orang sakit jiwa. Beberapa yang lain jauh lebih berbahaya dibanding yang terlihat sakit jiwa, mereka terlihat wajar dan normal seperti manusia lainnya, namun yang membedakannya adalah mereka begitu berbisa dan tidak bisa merasakan empati dan simpati, juga tidak bisa merasa bersalah apabila melakukan sesuatu yang salah, mereka bisa kita sebut sebagai psikopat.

Mlodinow berkata bahwa kelakuan manusia merupakan produk dari aliran persepsi, perasaan, dan pemikiran, baik pada kesadaran dan ketidaksadaran. Mungkin ini yang melatarbelakangi bahwa psikologi begitu menyukai aliran behaviourisme, karena kelakuan begitu compact: banyak muatan di dalamnya. Namun demikian, mengutip Bargh, manusia melakukan hal-hal untuk alasan yang tidak mereka ketahui. (Contoh sederhana: kadang kita merasa ingin untuk pergi ke suatu tempat, padahal biasanya kita tidak pergi kesana). Kita sebagai manusia sering kali mengira bahwa kita merupakan nahkoda dari jiwa kita sendiri, dan sangat mengerikan ketika kita merasa bahwa ternyata tidak demikian. Kadang-kadang kita mengalami apa yang disebut dengan psychosis – perasaan terpisah dari realitas dan berada di luar kendali.

Unconscious yang digagaskan oleh Freud, sering kali didefinisikan oleh para neuroscientist sebagai “hot and wet; it seethed with lust and anger, it was hallucinatory, primitive and irrational” sedangkan New Unconscious adalah yang “kinder and gentler than that and more reality bound”. Perbedaan lebih lanjut adalah, New Unconscious yang tidak dapat diakses tidak dianggap sebagai mekanisme perlawanan atau sesuatu yang tidak sehat, justru dianggap normal sebagai bagian dari proses evolusi (warisan Darwin). Disini, New Unconscious memiliki peran lebih penting untuk evolusi, tidak hanya melindungi kita dari hasrat-hasrat seksual atau kenangan-kenangan mengerikan dan menyakitkan, namun juga untuk survival sebagai sebuah spesies. Conscious berperan penting misalnya dalam mendesain mobil atau menguraikan hukum alam, namun untuk melindungi diri dari gigitan ular, kecelakaan mobil, dan orang-orang berbahaya, Mlodinow mengatakan bahwa kita harus berterima kasih pada Unconscious.

Pada prolog, diceritakan bahwa Peirce, (bukan Pevita, tapi filsuf Amerika, Charles Sanders Peirce)melakukan perjalanan dari Boston ke New York, dan dalam perjalanan itu, jam tangannya dicuri. Dia memutuskan untuk menebak pelakunya dan dia mencurigai salah satu orang dalam perjalanan tersebut. Meskipun orang itu mengelak (ya, pencuri mana ada yang mau mengaku? Dan ya, Peirce belum punya bukti) jadi setelah sampai, Peirce menyewa detektif dan intinya, ternyata identitas pencuri jam tangannya adalah orang yang memang dia tuduh dan curigai. Spekulasi dari cerita tersebut, para ilmuwan bisa mengatakan bahwa “Ya, itu kebetulan saja”. Lalu Peirce membuat eksperimen, dimana para subjek tes tersebut harus menebak benda mana yang lebih berat (padahal beda beratnya hanya sangat sedikit, berada dalam taraf deteksi minimum), namun dari eksperimen tersebut, sebesar 60 persen dari para subjek tes dapat menebak mana yang lebih berat dengan tepat. Itu eksperimen ilmiah pertama yang menyatakan bahwa: the unconscious mind possesses knowledge that escapes the conscious mind.

Dulu, pikiran manusia bagaikan kotak hitam yang tidak dapat diakses, namun kini, teknologi fMRI memungkinkan untuk memetakan aktivitas otak dengan mendeteksi aliran darah, dan dapat mengumpulkan data dari otak untuk merekonstruksi gambar dari apa yang seseorang lihat (dan dari rekonstruksi itu ternyata apa yang ada disana dan apa yang seseorang lihat bisa begitu berbeda). Ada pemahaman baru mengenai bagaimana cara otak bekerja, dan revolusi ini setidaknya disebut sebagai neuroscience. Dengan peralatan modern, kita dapat melihat struktur di otak yang menghasilkan perasaan dan emosi, bahkan kita dapat mengukur dan memetakan aktivitas saraf otak yang membentuk pikiran seseorang. Ilmuwan zaman sekarang dapat melakukan sesuatu yang melampaui berbicara pada pasiennya untuk menebak bagaimana pengalaman traumatisnya, dengan teknologi, ilmuwan zaman sekarang dapat langsung menunjuk perubahan otak yang merupakan hasil dari pengalaman traumatis dan memahami bagaimana pengalaman psikis traumatis dapat mengubah bagian otak secara fisik. Dalam mengobati pasiennya, Freud (dan para psikolog lain) tidak dilengkapi dengan peralatan untuk mengeksplorasi, dan dengan sederhana hanya berbicara pada pasiennya, mencoba menebak apa yang sedang berlangsung dalam pikiran mereka, mengobservasi dari sana, dan membuat kesimpulan apapun yang dianggap benar. Bagaimanapun, metode-metode demikian tak dapat diandalkan karena unconscious  tak akan pernah dapat diakses dan disingkap melalui refleksi dirinya sendiri melalui terapi macam itu, karena mereka berlangung di bagian di otak yang tak terbuka pada pikiran conscious.


Secara singkat, itulah yang membedakan New Unconscious dan Unconscious. Saya baru baca sedikit sih sebenarnya (dan mau melanjutkan). Selanjutnya silahkan membaca sendiri. Enjoy!

9 January 2014

(Emotionally) Unhealthy Men

Unhealthy men yang saya maksud disini bukan laki-laki penyakitan atau yang buncit kebanyakan makan. Unhealthy disini lebih merujuk pada dimensi mental dibanding tataran fisikal.

Saat membuat postingan ini, saya mengalami dan melihat banyak penindasan samar yang bisa dilakukan pada perempuan; penindasan samar yang mudah dilakukan ini khususnya pada media sosial. Kebanyakan dilakukan oleh laki-laki pengecut, yang penis dan akalnya mungkin sama pendeknya.

Pasti begini kronologinya.

Pertama, tentunya si laki-laki tertarik pada si perempuan (sepertinya lebih secara seksual dibandingkan intelektual karena agaknya kapasitas intelektual mereka tidak mencukupi untuk mengimbangi kapasitas intelektual perempuan).

Kedua, si laki-laki tidak punya keberanian bagai pejuang dan harga diri yang tinggi, serta di lubuk hatinya sesungguhnya dia tahu betul bahwa dia akan ditolak mentah-mentah oleh si perempuan karena dia sama sekali tidak pantas untuknya, namun kepengecutannya dan kekerdilannya membuatnya mengelak dari hal tersebut, dia tidak mau penolakannya diketahui secara nyata oleh orang-orang lain.

Maka, para laki-laki pengecut dan kerdil mentalnya menyusup lewat media sosial. Mengganggu bagaikan lalat. Mereka lebih buruk dibandingkan lalat. Bahkan lalat pun bisa bersikap lebih baik, mereka menyingkir bila diusir.

Melalui kotak masuk di berbagai media sosial, mereka merajalela dan mengganggu. Sekali, direspon dengan sopan. Kedua kali, direspon dengan enggan. Ketiga kali, si perempuan sudah merasa cukup terganggu untuk bisa mentolerirnya. Namun bagaimana caranya si perempuan menghindar dari perhatian yang tidak diinginkan? Satu: mendiamkan, dua: mendiamkan: tiga: mendiamkan, empat: kesal hingga menangis marah, lima: menyerang untuk menyadarkan. Namun, lebih bodoh dari orang bodoh sekalipun, si laki-laki tolol, bodoh dan mengerikan malah tetap saja mengganggu.

Ada juga, yang menyusup di kotak masuk media sosial: para laki-laki yang hidup di masa lalu. Mereka lupa bahwa dulu dan sekarang berbeda. Mereka membangun gubuk reyot di masa lalu dan hidup disana. Kekinian tidak nampak di mata mereka. Mata mereka ditempeli kotoran mata dari masa lalu. Agaknya obat tetes mata dari masa kini tak mampu membersihkannya.

Maka, jenis sama dari laki-laki pengecut dan kerdil ini memaksa dan tidak sadar sedang memaksa. Mereka meneror dan tidak sadar sedang meneror. Mereka lupa bahwa mereka tidak bisa selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka lupa bahwa mereka tidak boleh memaksakan keinginan begitu saja karena si perempuan sama sekali tidak memiliki keinginan yang sama dengannya. Mereka lupa bahwa hal itu tidak lain adalah paksaan dan penindasan. Mereka lupa bahwa dalam hubungan yang baik, kedua pihak sama-sama senang, bukannya yang satu senang, dan yang satunya menderita. Agaknya mereka kurang membaca buku untuk memperluas wawasan. Penis dan wawasannya mungkin sama pendeknya.

Lagi, bagaimana caranya si perempuan menghindar dari perhatian yang tidak diinginkan? Keindahan selalu menarik dan selalu digunakan dan disalahgunakan. Lalu, haruskah si perempuan menjelekkan, membodohkan, dan membuat dirinya menjadi tidak menarik semata-mata agar tidak diganggu lagi? Haruskah si perempuan mengubah orientasi seksualnya dan membombardirnya di media sosial semata-mata agar tidak diganggu lagi?


Tidak perlu, perempuan. Jalani hidupmu seperti biasanya. Lakukan apa yang kau inginkan. Tetap pintar, tetap cantik, tetap sehat, tetap memukau. Jangan pedulikan para pengganggu. Mereka tidak layak untuk dapat perhatianmu, secuilpun.

4 January 2014

Tidak=Tidak


Tanda ada dimana-mana, bahkan dalam setiap perilaku. Sayangnya karena dibutakan oleh keegoisan, kebodohan, dan nafsu, tak semua orang mampu dan mau melihat tanda-tanda yang terdapat dalam gerakan tubuh atau perkataan seseorang.
Postingan ini dimaksudkan untuk mencerahkan pikiran laki-laki bodoh yang perlu dicerahkan, semoga masih ada sisa otak yang menempel disana sehingga bisa membaca lalu mencerna yang dibaca. Tidak perlu memaksa, membujuk, berupaya, dan berpura-pura.
Tidak artinya tidak.

15 November 2013

Some Fill With Each Good Rain

There are different wells within your heart.
Some fill with each good rain,
Others are far too deep for that.

In one well
You have just a few precious cups of water,

That “love” is literally something of yourself,
It can grow as slow as diamond
If it is lost

Your love
Should never be offered to the mouth of a stranger

Only to someone
Who has the valor and daring
To cut pieces of their soul off with a knife

Then weave them into a blanket
To protect you.

There are different wells within us.
Some fill with each good rain,

Others are far, far too deep
For that.



The Gift, p. 76

26 July 2013

Ancient Aliens

Kemarin banget, saya nonton Ancient Aliens lagi, setelah absen beberapa lama karena skripsi (yayaya, di mana-mana selalu harus ada sesuatu atau seseorang yang perlu disalahkan).

Episode kemarin seru banget menurut saya. Entah memang saya yang suka sama hal-hal semacam ini, udah lama gak nonton, atau apa, ya pokoknya menarik lah buat saya.


Episode kemarin berfokus pada Erich von Däniken yang membuat beberapa buku kontroversial yaitu Chariots Of The Gods?, Gods From Outer Space, History Is Wrong, dsb. Bagaimana gak kontroversial? Mengenai von Däniken, baik kaum ilmuwan maupun agamawan memiliki kesamaan pandangan: bahwa von Däniken ngaco abis. Oleh para ilmuwan, karya-karyanya diklasifikasikan sebagai pseudoscience, pseudohistory, pseudoarchaeology. Oleh para agamawan, karya-karyanya diklasifikasikan sebagai produk murtad.

Kenapa?

Mungkin karena baik ilmuwan maupun agamawan memiliki kotaknya masing-masing, dan von Däniken jelas tidak muat di sana.
Mungkin karena baik ilmuwan maupun agamawan lupa dan tidak sadar bahwa von Däniken adalah orang yang hobi bertanya saja (kabarnya isi dalam bukunya adalah ribuan pertanyaan, sayangnya rentetan tanda tanya besar tersebut luput dari kebanyakan mata para pembacanya). HOW? WHAT? WHAT IF?

Meskipun pendekatannya berbeda, baik ilmuwan maupun agamawan setuju bahwa manusia adalah makhluk terbaik; ilmuwan akan menunjukkan tahapan evolusi hingga akhirnya ada yang namanya Homo sapiens, agamawan akan menunjukkan ayat-ayat penciptaan hingga ada yang namanya manusia.

Bagaimanapun itu, Homo sapiens, manusia, sudah ada sejak kira-kira 250.000 tahun lalu, berkeliaran di bumi, beranak pinak, namun baru 50.000 tahun belakangan tiba-tiba ada lompatan besar pada Homo sapiens/manusia ini. Dari manusia pemakan pisang, manusia gua, manusia pindah-pindah, menjadi manusia yang mengetahui tentang astronomi, matematika, seni, dsb. Ada lompatan besar dari yang tidak beradab, jadi memiliki peradaban. Bagaimana itu bisa terjadi? Siapa yang mengajarkan peradaban? Kenapa sangat tiba-tiba sekali hingga menjadi quantum leap?

Ilmuwan mungkin akan menjawab: evolusi. Tapi ya kenapa bisa ada quantum leap begini? Agamawan mungkin akan menjawab: Tuhan.

Pada dasarnya, von Däniken berupaya mencari jawaban tersebut dengan berpartisipasi dalam penelusuran arkeologis dan historis. Dia mencari bukti-bukti masa lalu, untuk mendukung kecurigaan dan hipotesa-hipotesanya. Keanehan dan keganjilan artefak dari masa lalu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, baik oleh dirinya maupun oleh para pembacanya.

Piramida di Mesir merupakan bangunan besar yang aneh, untuk ukuran zaman tersebut bangunan tersebut hampir mustahil untuk dibangun, meskipun kita mengetahui bahwa yang membangunnya adalah budak-budak di Mesir, namun kita tidak mengetahui siapa yang menyuruh mereka untuk membangun piramida-piramida tersebut. Bahkan sebuah rumah kecil pun punya pemilik, namun piramida hanya bangunan anonim. Stonehenge di Inggris lebih aneh lagi, bangunan yang tidak jelas untuk apa, siapa yang membangunnya, bagaimana cara orang kuno membawa batu-batu sebesar itu, menyusun dan menumpuknya. Lalu, kenapa juga ada kemiripan bentuk piramida, dengan berbagai kuil suku Maya dan Inca (kalau dilihat pada konteks zaman sekarang, bangunan-bangunan tersebut agak menyerupai roket)? Kenapa kisah-kisah kunonya juga memiliki kemiripan?

von Däniken juga menemukan artefak-artefak yang aneh bila dipikirkan lebih lanjut. Misalnya tutup peti mati raja Maya Pakal yang berbentuk aneh (aneh khususnya untuk zaman kuno tersebut, karena raja ini terlihat seperti dalam posisi berkendara, mengendarai suatu kendaraan yang sepertinya menghadap ke atas, dengan tangan dan kaki seperti sedang mengontrol suatu alat).



Lalu misalnya artefak-artefak yang mirip piring terbang dan astronot ini. Apa mungkin orang-orang kuno pernah melihat piring terbang di angkasa, dan melihat astronot juga?





Saya sempat tersasar ke situs yang membahas karya seni yang aneh, silahkan kalau mau ikut tersasar; http://lithiumdreamer.tripod.com/ufoart.html 

Pertanyaan lanjutan adalah, bagaimana jika Jesus, atau Tuhan-Tuhan dan Dewa-Dewa lain adalah alien? 

Pada hampir setiap teks kuno, selalu disebutkan mengenai campur tangan Tuhan atau para Dewa yang berasal dari langit. Mereka melakukan perjalanan dari langit ke bumi dengan kendaraan tertentu (orang kuno menyebutnya sebagai kereta, ular, naga api, dan sebagainya; orang zaman sekarang mungkin menyebutnya sebagai roket, pesawat atau piring terbang). Pola umum pada hampir setiap agama, teks kuno, peradaban kuno adalah: Tuhan atau para Dewa ini, datang dari langit ke bumi pada masyarakat tertentu, lalu menyebarkan gagasan dan mengajarkan beragam ilmu pengetahuan untuk masyarakat yang perlu bantuan kehidupan. Setelah selesai menunaikan tugas untuk mendidik masyarakat tersebut agar beradab, membuat fondasi peradaban, Tuhan atau para Dewa ini kemudian kembali lagi ke langit, dan berjanji bahwa suatu saat nanti akan kembali lagi ke bumi. Terdengar familiar kan? Carilah di setiap teks kuno, ceritanya selalu mirip.


Berdasarkan hipotesa tersebut, Tuhan atau para Dewa mungkin adalah alien yang berkunjung ke bumi, risikonya adalah ajakan untuk ribut dari para ilmuwan maupun agamawan; yang satu meributkan alien, yang satu meributkan Tuhan atau para Dewa, kemungkinan kekeliruan agama mereka karena mungkin kita hanya dikunjungi oleh alien.

Belum selesai dengan kebingungan tersebut, isu per-alien-an ini berkembang lagi; penculikan manusia oleh alien, alien pernah bersetubuh dengan manusia. 
Alien laki-laki melihat bahwa manusia perempuan sangatlah menarik (kejutan?), lalu mencoba berketurunan dengannya, dsb. Terdapat beberapa temuan tengkorak yang menunjukkan bentuk kepala besar yang aneh yang dapat mendukung isu-isu aneh tersebut. 


Pernah penasaran kenapa patung-patung Mesir kuno kepalanya lonjong ke belakang? Nefertiti dan Akhenaten misalnya.



Berdasarkan hipotesa per-alien-an, mungkin mereka adalah produk hybrid, persilangan antara manusia dengan alien. Tengkorak aneh yang ditemukan di Mesir dan Peru juga sepertinya menyokong hal ini.

Kembali ke lompatan besar dari yang tadinya tidak beradab menjadi beradab, bagaimana jika sejarah tidaklah sesederhana itu? Bagaimana jika sejarah tidak bersifat linear? Bagaimana jika waktu tidak bersifat linear? Bagaimana jika memang ada alien dari kehidupan planet lain? Bagaimana jika alien-alien kuno adalah manusia di masa depan yang sudah memiliki teknologi mesin waktu sehingga dapat kembali ke masa lalu untuk membantu, mendidik manusia kuno, dan mengatur sejarah peradaban?

Kadang, mungkin kita harus berada di antara yang masuk akal dan tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, kita, manusia yang katanya merupakan makhkluk terbaik, hanyalah setitik partikel kecil di alam semesta yang begitu luas.



22 July 2013

Can't Blame The Time

Hari ini berjumpa lagi dengan kv 333, kv 332, dan k 309.
Terakhir berjumpa sebelumnya adalah bulan Januari tahun ini.
Sekarang, bulan Juli.

Jadi beginilah rasanya bila sekian lama baru berkesempatan berjumpa lagi dengan sesuatu atau seseorang yang pernah sangat akrab dengan kita.

Enam bulan lalu mungkin saya sangat ingin memahaminya, begitu tertarik, tergila-gila hingga berjam-jam dapat duduk dengannya, berhari-hari, hanya untuk melihat pola, dan mendengar teksturnya. Mengulangi berkali-kali. Membuat jari saya senang hingga lelah karena menari dengannya. Setelah merasa akrab dengannya, memahaminya, saya tertarik dengan karya lain, meninggalkannya demi hal-hal lain, atau kesibukan lain.

Kini, bertemu dengannya terasa canggung.
Jari menari dengan konyol.
Seperti mulai lagi dari awal, kali ini untuk mengenal kembali.
Saya hanya bisa mengenang, terheran-heran.
Sang abstrak partikular tidak pernah berubah.
Saya yang terus berubah.

Padahal saya merasa bahwa saya telah menyimpannya baik-baik.
Tetap saja, pencuri menyusup.
Waktu bisa mencuri memori.
Atau, mungkin saya yang tidak cukup sayang untuk dapat melindungi memorinya.
Membiarkannya dicuri.

You Were Brave In That Holy War

You have done well
In the contest of madness.

You were brave in that holy war.

You have all the honorable wounds
Of one who has tried to find love

Where the Beautiful Bird
Does not drink.

May I speak to you
Like we are close
And locked away together?

Once I found a stray kitten
And I used to soak my fingers
In warm milk;

It came to think I was five mothers
On one hand.

Wayfarer,
Why not rest your tired body?
Lean back and close your eyes.

Come morning
I will kneel by your side and feed you.
I will so gently
Spread open your mouth
And let you taste something of my
Sacred mind and life.

Surely
There is something wrong
With your ideas of
God.

O, surely there is something wrong
With your ideas of
God

If you think
Our Beloved would not be so
Tender.



The Gift, Poems by Hafiz, p. 271